CINTA KASIH DALAM KELUARGA
Kita menganggap bahwa keberadaan cinta kasih dalam keluarga adalah sesuatu yang pasti. Kita menganggap bahwa dalam keluarga orang tua pasti mencintai anak-anaknya dan sebaliknya. Kita menganggap bahwa ada cinta kasih antara saudara kandung adalah sesuatu yang pasti. Bahwa kalau anak-anak sudah dewasa dan masing-masing berkeluarga maka cinta kasih ini akan tetap ada. Bahwa ada cinta kasih antara orang tua seorang suami dengan orang tua seorang istri. Bahwa pasti ada cinta kasih antara suami dan istri. Kita menganggap bahwa kalau tidak ada cinta kasih buat apa menikah, kan? Salah besar.
Apakah anda belum mendengar? Apakah anda buta atau sama sekali tidak mengetahui? Kenyataannya, cinta kasih dalam keluarga tidak otomatis ada. Sejarah membuktikan bahwa banyak keluarga hancur justru karena tidak ada cinta kasih. Apalagi sekarang dalam abad 21. Bila keluarga terbentuk karena cinta kasih yang bersumber dari cinta kasih pada Allah SWT, mengapa Rasulullah saw perlu menyampaikan beberapa pesan Allah SWT mengenai kehidupan keluarga? Mengapa ada beberapa ayat dalam al-Qur’an yang menyinggung kehidupan dalam keluarga?
Coba kita perhatikan sikap dan perilaku anggota keluarga terhadap anggota lainnya, antara kakak dan adik, antara suami istri, antara besan, antara orang tua dan anak, kita akan bertanya ”bagaimana kok mereka bisa dalam satu keluarga yah?” Lebih baik lagi, coba perhatikan sikap dan perilaku kita sendiri terhadap anggota keluarga kita sendiri? Apakah kita memperlakukan mereka dengan penuh cinta kasih? Apakah kita memikirkan mereka dengan penuh cinta kasih? Jujurlah!
Mungkin kita tidak menyukai lakon yang dimunculkan sinetron-sinetron televisi Indonesia tapi apakah itu disebabkan karena sinetron-sinetron tersebut memberikan gambaran akurat mengenai kondisi keluarga-keluarga kita? Masyarakat kita munafik – berbicara, menulis, diwawancarai, mengenai tidak baiknya ini dan itu dalam kehidupan (narkoba, sex bebas, perselingkuhan, korupsi, kezaliman antar kelompok beragama, dst.) tetapi melakukan (atau minimal peserta pasif) apa yang dikritik. Sebagai seseorang yang menganut Islam hanya 10 tahun terakhir, dan meyakini kebenaran ajaran Allah SWT seperti tertuang dalam Kitab Suci Al Qur’an dan dicontohkan Rasulullah saw melalui hadis, saya bingung kok banyak orang miskin diantara mereka yang mengaku Muslim? Bukannya kita diharuskan zakat? Kalau seluruh rukun Islam (hanya 5 saja lho) dijalankan dengan konsekuen, tidak akan ada orang miskin. Baik miskin ekonomi maupun rohani. Kemunafikan ada dimana-mana, termasuk mungkin saya juga. Sedekah hanya diberikan para pejabat dan petinggi kalau ada kamera dan wartawan. Di satu sisi ada pemerintah daerah yang memaksa warganya dengan perda-perda syariat (bentuk kegagalan pendidikan Islam di negara kita), di lain pihak ada pemda yang melarang bersedekah di tempat-tempat umum.
Semua keburukan, semua kezaliman, semua kejahatan, semua kemaksiatan yang kita lakukan terhadap sesama terjadi karena kita manusia sudah melupakan fitrah kita. Kita adalah makhluk yang diciptakan karena CINTA sang Khalik. Kita telah mempersekutukan Allah SWT. Uang telah menjadi tuhan kita. Makanan telah menjadi tuhan kita. Hedonisme (falsafah kenikmatan) telah menjadi tuhan kita. Kebenaran kita telah menjadi tuhan kita. Mempersekutukan Yang Mencintai kita tanpa syarat adalah pengkhianatan tiada duanya. Pantas saja kemusyrikan tiada ampunanNYA.
All you have to do – Yang perlu dilakukan – hanyalah TO LOVE. Cintailah Allah SWT dan RasulNYA tanpa syarat dan segala cinta di dunia akan membawa kita pada kebahagiaan. Ini adalah JAMINAN. Parental love, fraternal love, erotic love, filial love, semua jenis cinta termasuk cinta pada bangsa dan negara berasal dari Allah. Hanya saja kita harus melakukannya dalam kerangka yang sudah ditentukan (sunatullah) untuk membedakan kita manusia dengan hewan.
LOVE, CINTA, LOVE, CINTA, LOVE, CINTA is the only way out of our worldly miseries. Hanya Cinta yang dapat mengeluarkan kita dari penderitaan dunia ini. Mencintai (in behavior not only in words) kedua orang tua kita adalah hal kedua paling penting setelah Mencintai Allah dan RasulNYA. Mintalah ampunan mereka terhadap kedurhakaan kita dalam perilaku dan pikiran. Cintailah kakak dan adik kita. Janganlah kita mengedepankan egoisme kita. Tanpa orang tua kita tidak eksis, tanpa kakak dan adik kita tidak bisa tumbuh. Tanpa mertua dan ipar kita tidak bisa menjadi anggota masyarakat luas. Harta, kekuasaan, kecantikan, tidak bermanfaat dalam keluarga kalau yang dipikirkan adalah APA UNTUNGNYA BAGI AKU. Ubahlah dengan APA UNTUNGNYA BAGI KITA BERSAMA.
Ingin tahu kiat-kiat bercinta kasih dalam keluarga? Wait for my next write-up. Mungkin anda sudah ahli dalam cinta-mencintai. Bila iya, silahkan berbagi dengan kita kiat-kiatnya.