Apakah Anda
Termasuk Orang yang Bahagia?
Orang yang mencekik dirinya, dia akan mencekik dirinya sendiri di akhirat. Orang yang menikam dirinya, maka dia akan menikam dirinya sendiri di akhirat.
(Al Hadis)
SUATU hari pada tahun 2005 kami mengadakan pelatihan di salah satu kabupaten di Sumatera Barat dengan judul “Kiat Mengatasi Ketakutan, Kecemasan dan Keraguan” khusus bagi anggota Gabungan Organisasi Wanita (GOW). Walaupun sepintas judul pelatihan berhubungan dengan pengembangan potensi diri, atas permintaan penyelenggara kami diminta untuk mengarahkan pembahasan ke masalah yang mereka hadapi saat itu yakni perselingkuhan. Menarik sekali!
Kami meminta sekitar 70-an peserta untuk menulis diatas secarik kertas jawaban terhadap dua pertanyaan : Apakah anda bahagia? dan Mengapa? Mengapa anda bahagia atau mengapa anda tidak bahagia. Jawaban harus diberikan secara jujur.
Pertanyaannya sangat sederhana namun sangat mendasar. Jawabannya tidak semudah pertanyaannya. Butuh pemikiran yang cukup mendalam. Dari jawaban-jawaban yang diserahkan dapat kami mengambil suatu kesimpulan mengenai budaya kelompok ibu-ibu bersangkutan dan apa yang meyita pikiran mereka.
Kami menemukan bahwa ada pencampur-adukan mengenai pemahaman terhadap kata bahagia, yang sering dipertukarkan dengan kata gembira, senang. Padahal makna dari dua kata ini berbeda, boleh dikatakan secara inti berseberangan.
Kami tidak peduli dengan apa terjemahan di kamus, baik kamus Indonesia maupun bahasa asing lainnya. Kalau kita coba merenungkan makna kata ini, pasti akan muncul suatu rasa bahwa bahagia sifatnya permanen, tidak dipengaruhi waktu dan ruang, dan akan selalu ada di dalam diri kita yang terdalam apapun yang terjadi pada kita yang datang dari luar diri, dengan pengaruh pada fisik maupun mental kita. Sedangkan senang dan gembira sifatnya temporer, dan sangat terpengaruh oleh keinginan kita. Bila keinginan terpenuhi perasaan gembira, senang akan muncul. Sementara bahagia tidak dipengaruhi keinginan tetapi kepedulian terhadap diri orang lain yang kemudian membuat diri kita merasa bahagia. Istilahnya, kamu gembira, kamu senang, kamu bahagia, aku bahagia.
Senang ada kemiripan dengan suka. Unsur egoisme, mementingkan diri sendiri, mendominasi. Contoh soal – kalau saya suka telpon genggam (hp) yang saya miliki saat ini, itu disebabkan karena saya menyukai warna, bentuk, fitur, dan gengsi yang terkandung dalam kepemilikannya. Bila saya melihat hp lain dan saya menginginkannya, maka ada beberapa alternatif tindakan yang dapat saya lakukan. Saya menjual, memberikan atau membuang hp yang kini saya miliki dan membeli yang baru itu. Pokoknya, saya harus memiliki yang baru itu dengan cara membelinya atau dengan cara lain. Mengapa saya menginginkan yang baru tersebut? Karena bentuknya, fiturnya, warna dan gengsi memilikinya sesuai dengan keinginan saya yang baru. Pada akhirnya, saya mengesampingkan yang lama karena ingin yang baru. Tidak perduli apa kata orang.
Coba kita aplikasikan pola pikir dan pola perilaku ini pada hubungan sesama manusia. Saya suka dengan seseorang. Lawan jenis. Tapi hanya selama saya mendapatkan sesuatu dari hubungan ini. Kalau saya bosan dengan dirinya dan tidak lagi dapat memperoleh sesuatu dari doi, mulailah saya mencari yang baru. Pencarian untuk yang baru biasanya diawali waktu mata kita mulai melihat sekitar kita dengan penuh minat.
Mata, salah satu panca indera, meneruskan (mentransmisikan) informasi yang tertangkap saraf optik (penglihatan) di otak pada salah satu organ otak yang terkait dengan emosi dan keinginan (amygdala). Bila ada kesesuaian antara yang dilihat dengan yang diinginkan, dibarengi emosi yang meningkatkan detakan jantung dan kecepatan pernapasan, maka pemburuan dimulai. Semua ini terjadi hanya dalam waktu sepersekian detik. Emosi ini tidak lagi memberikan kesempatan pada kita untuk menimbang baik buruknya suatu tindakan.
Jadi, yang lama diapakan? Bila kita turuti hawa nafsu kita, maka pikiran kita menciptakan begitu banyak dalih dan alasan (excuse) untuk ‘membuang’ yang lama. Inilah yang umumnya terjadi. Bila hati nurani masih berdaya untuk menyampaikan ‘keberatannya’ maka terjadilah konflik batin. Konflik batin inilah yang akan membuat kita merasakan tekanan pada jiwa yang umumnya disebut stres.
Mendapatkan yang baru membuat kita senang, tetapi apakah membuat kita bahagia? Apakah perasaan senang ini berlangsung lama? Bisa dipastikan bahwa perasaan ini berlangsung sebentar dan hanya sampai keinginan baru muncul. Suatu kenyataan bahwa manusia selalu ingin lebih dari yang saat ini dimiliki. Manusia lupa bahwa ia secara harfiah tidak dapat memiliki apapun karena semuanya adalah milik Allah SWT.
DIA memberikan, DIA pula yang menariknya kembali. Apabila terlihat bahwa orang-orang jahat (dzalim) bisa memiliki harta benda banyak dan untuk masa waktu panjang, hal ini sebenarnya adalah suatu cobaan.
Coba dicermati! Apakah pemilik uang dan harta benda yang diperoleh dengan cara-cara haram benar-benar bahagia? Belum tentu juga dia senang. Banyak yang ada di pikirannya dan banyak pula permasalahan yang menghinggapi dia. Sakit yang dideritanya tidak bisa disembuhkan dengan banyaknya uang yang dikeluarkan. Dia stres memikirkan bagaimana mengamankan uangnya. Dia kerja keras untuk menyembunyikan harta tersebut. (*)
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.