Love – The Solution

DUNIA PENUH KEBENCIAN KARENA TAK ADA CINTA

December 19, 2007 · 2 Comments

Kadang kita baru menyadari betapa pentingnya sesuatu bila kita sudah kehilangan sesuatu itu. Katakanlah cinta. Karena kita cenderung meremehkan sesuatu yang baik dan tidak memupuknya dengan berulang-ulang melakukannya. Contoh, senyuman di wajah seorang Ibu setelah melahirkan dan menggendong bayinya. Senyuman seorang kekasih bila pasangannya memberinya sesuatu yang sudah lama ia inginkan. Pelukan dua teman yang sudah lama tak berjumpa. Doa yang dipanjatkan seorang fakir miskin saat ia menerima sesuatu dari seseorang dengan wajah penuh kasih sayang. Alangkah bahagianya kita melihat semua itu dan perilaku-perilaku lain yang mencerminkan adanya cinta. Akan tetapi apa yang kita lihat setiap hari di suratkabar, majalah, televisi, filem, sinetron dan media-media lain belakangan ini, Manusia memangsa manusia tak peduli darah dagingnya sendiri.

Apakah dunia kita sudah mendekati kiamat besar? Apakah kita sudah turun ke tingkatan yang lebih rendah daripada hewan? Yang dilaporkan hanyalah kebencian, kekerasan, terhadap sesama. Kekerasan bahkan terjadi antar anggota dengan keyakinan yang sama. Histeria massa menjadi sesuatu yang lumrah. Ibarat kawanan serigala yang bertujuan hanya satu. Memakan yang dianggapnya musuh/mangsa. Kini manusia menganiaya saudaranya sendiri. Mereka merasakan “kebahagiaan” atau lebih tepat sensasi yang sangat menggairahkan saat mereka bisa melihat darah mengucur dari tubuh “musuh”nya. Kenal juga tidak namun kawanan atau gerombolan ini sudah kehilangan kesadarannya sebagai manusia dan hanya ada satu emosi yang menguasai mereka. Bunuh, bunuh, bunuh. Kalau hewan sudah diprogram untuk memangsa untuk hidup. Hewan tidak punya pilihan. Tapi hewan tidak akan memangsa jenisnya sendiri. Sedangkan manusia diberi akal dan kebebasan memilih. Celakanya, manusia memilih untuk tidak menggunakan akalnya, apalagi hatinya. Masya Allah!!!

Yang mengerikan dari antara begitu banyaknya kebiadaban manusia adalah orang tua yang menganiaya anaknya sendiri yang masih bayi, yang tak berdaya hingga tewas. Pasangan yang katanya saling mencintai tetapi dalam sekejap melampiaskan emosi setannya dan melenyapkan pasangannya dari muka bumi.

What is happening? Apa yang sedang terjadi dengan umat manusia? Azab pasti akan menimpa mereka tetapi mereka sudah berubah menjadi makhluk tak berakal. Tak ada berpikir panjang. Gawatnya mereka dengan mudahnya dihasut, diprovokasi oleh agen-agen iblis berwujud manusia. Itu baru yang bersifat fisik. Belum lagi kekerasan psikologis. Bahkan dalam dunia bisnis dengan dalih bahwa mereka benar para pengusaha bermodal besar menzalimi pengusaha lain yang tidak selihai dalam menipu, dalam ngerjain pengusaha lain. Apalagi tenaga kerja yang dipaksa kerja rodi seperti zamannya para firaun yang memaksa warganya membangun piramida, istana terakhir mereka sebelum meninggalkan dunia fana ini. Gaji sudah tak mencukupi, dipaksa kerja lembur tanpa apresiasi. Semua demi tuhan uang. Profit selalu dijadikan sebagai alasan untuk berbisnis. Kesejahteraan tak pernah dipikirkan. Tak kecuali pengusaha yang mengaku beragama. The world is upside down now!!!!

Yang benar dianggap salah dan yang salah dibenarkan. Pimpinan yang seharusnya melindungi dan mengayomi masyarakat malah menindas mereka dengan dalih bahwa negara kita adalah negara hukum. Keadilan sudah tiada – minimal kita melihat bahwa keadilan atau orang-orang yang adil sekarang menjadi minoritas. Seolah-olah hukum itu benar. No wonder there are uprisings everywhere. There is no more love in this world. Bahkan cinta dijadikan alasan untuk menzalimi diri sendiri dan sesamanya.

Ini terjadi karena kita sudah dikuasai oleh materialisme. Filosofi keduniaan merajalela. Ketamakan dinilai tinggi. Kalau tertangkap karena korupsinya kasar maka ia bisa ditindak tetapi hukuman manusia pun bisa dinego dengan duit. Kezaliman pengusaha yang dilakukan secara halus malah lebih berbahaya karena yang besar dan kecil menganggap perbuatan jahat ini sah-sah saja. Sehingga mencuri bagi yang kecil juga sudah menjadi way of life. Namun bila yang kecil dan lemah tertangkap maka mereka dianiaya dan dihakimi oleh yang kuat, baik perorangan maupun kelompok. To survive kata yang kecil hanya bisa terjadi kalau mereka juga ikut bermain. It is a dog eat dog world.

Love sudah tidak ada artinya. Yang ada hanya kenikmatan fisik sesaat. Hedonisme menjadi gaya hidup yang diatas dan yang dibawah…………………..ya apa boleh buat, ikut-ikutan juga. Hanya saja mereka dihukum lebih berat oleh manusia yang diatas.

Sadarlah dan beware. In the end, you will all be liquidated through the hands of the Almighty. It is better to have loved and lost than not to have loved at all. Ini adalah kata-kata mutiara yang perlu dimodifikasi sedikit. Bila anda mencintai anda tidak akan kalah atau kehilangan. Sebaliknya by giving love you will one day receive love in return manifold.

Show your love even in small portions and you will receive love in return many times more. Kalau kita beriman dan menunjukkan cinta kita pada sesama walau hanya sedikit, kita akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda. Sedikit sedikit menjadi bukit. Itulah Cinta. Cinta adalah berbuat apa saja untuk membahagiakan orang lain. Do we still have Love?

Categories: Cinta

2 responses so far ↓

  • inta // January 30, 2008 at 1:14 pm

    inta setuju dengan kalimat “cinta adalah berbuat apa saja untuk membahagiakan orang lain”.seperti yang inta alami hari ini, inta rela lakukan apa aja tuk sahabat tercinta. tapi yang inta dapatkan hanya kekecewaan karena ternyata dia tak menghargai sedikitpun pengorbanan inta. dari kejadian ini apakah ini menandakan tak ada cinta lagi dalam dirinya? bukankah bila kita memberi cinta maka kita juga akan mendapatkan cinta juga? tapi mengapa dalam hal ini inta tak dapat merasakannya…padahal inta selalu tulus dan ikhlas memberi apa aja

  • Abdullah Rudolf Smit // January 31, 2008 at 6:03 am

    Inta, salah satu ciri cinta yang ikhlas adalah tidak mengharapkan balasan dari orang yang telah kita berikan cinta kasih. Allah mencatat amal baik kita dan pasti akan memberikan kita balasan berlipat ganda tetapi belum tentu melalui diri yang menerima cinta kita. Bisa melalui orang lain, bisa dalam bentuk lain, bisa pada waktu yang tidak kita ketahui, bisa pada saat kita sangat membutuhkan cinta (kelak). Jadi, balasan pasti ada dan Allah telah berjanji dalam hal ini. Namun bila tidak di dunia ini balasannya bisa datang pada saat yang paling penting, yakni pada saat kita berhadapan dengan NYA.

    Teruslah menebar cinta sesuai kehendak NYA. Insya Allah inta akan menuai hasil yang pasti membahagiakan. Cinta tidak memikirkan diri sendiri, hanya yang dicintai.

Leave a Comment